Game Favorit 2025-ku? Rilisnya Tahun 2012!
Morninroutine – Tahun 2025 mungkin telah menjadi panggung gemerlap bagi industri game, dengan rilis-rilis fenomenal yang siap memanjakan para gamer. Sebut saja Clair Obscur yang memukau secara visual, Blue Prince yang penuh misteri, atau Dragon Quest 1+2 HD-2D Remake dan Tony Hawk Pro Skater 3+4 yang berhasil menghidupkan kembali nostalgia dengan sentuhan modern. Namun, di tengah hiruk pikuk judul-judul baru yang ambisius ini, seorang veteran di dunia game, Austin King—Editor Senior Gaming di esportivonews.com yang dikenal karena kecintaannya pada RPG dan game tabletop—justru menemukan Game of the Year (GOTY) pribadinya dari masa lalu. Sebuah kejutan yang tak terduga, game favoritnya di tahun 2025 ternyata adalah rilis multi-platform dari tahun 2012.

Fenomena jatuh cinta kembali pada game lama di tumpukan backlog bukanlah hal baru di kalangan gamer. Namun, menemukan bahwa mahakarya berusia 13 tahun mampu mengungguli semua rilis baru yang canggih, bahkan setelah pernah menamatkannya di masa lalu, adalah pengalaman yang sungguh unik. Bagi Austin, game yang berhasil mencuri hatinya di tahun 2025 adalah LEGO Lord of the Rings. Ini bukan sekadar lelucon; sebagai penggemar berat semesta J.R.R. Tolkien, keputusan ini terasa sangat personal dan beralasan.
Perjalanan kembali ke Middle-earth versi LEGO ini bermula dari serangkaian momen yang memicu nostalgia. Setelah marathon ulang Extended Editions dari trilogi film Peter Jackson dan asyik merakit set LEGO Rivendell yang megah, dorongan untuk memutar kembali game LEGO Lord of the Rings menjadi tak terhindarkan. Mengingat game ini telah ditarik dari toko digital, Austin berburu kopi fisik bekas untuk PS3 seharga sekitar $15. Sebuah misi yang patut dicontoh bagi para kolektor. Jika dulu ia menuntaskan 100% permainan di Xbox 360, kali ini tujuannya adalah meraih semua trofi PSN. Ia pun menyelami kembali petualangan Frodo dan kawan-kawan, terkadang sendirian, terkadang ditemani salah satu anaknya, hingga akhirnya menuntaskan game dan mengejar setiap trofi yang tersisa.
Dan hasilnya? LEGO Lord of the Rings terbukti masih sangat relevan dan menyenangkan. Bagi Austin, game ini selalu menjadi favorit di antara seri game LEGO lainnya, dan setelah bertahun-tahun, keseruannya sama sekali tidak memudar. Bahkan, pengalaman ini begitu imersif hingga ia terpengaruh membeli set LEGO The Shire dan kini menantikan set Minas Tirith yang kabarnya akan rilis—sebuah bukti nyata betapa kuatnya daya tarik sinergi antara media.
Ada sesuatu yang menenangkan dan otentik saat memainkan game yang tidak lagi menjadi sorotan utama. Anda tidak perlu terjebak dalam diskusi online yang tak berujung atau melihatnya memenuhi linimasa media sosial setiap hari. Game ini tidak lagi menjadi bagian dari zeitgeist kekinian, memungkinkan Anda untuk menikmatinya sepenuhnya, dengan kecepatan Anda sendiri, dan mengapresiasi esensinya tanpa tekanan. Ini adalah pengalaman murni, sebuah pelarian dari hiruk pikuk rilis baru yang seringkali datang dengan ekspektasi tinggi dan perdebatan tak berujung. Rasa "chill" yang ditawarkan oleh game lama ini, dikombinasikan dengan sentimen pribadi, seringkali bisa mengalahkan kilau inovasi terbaru.
Jadi, ya, tahun 2025 memang tahun yang sukses dan penuh gemilang bagi industri game, dengan banyak judul hebat yang lahir. Namun, bagi Austin King, LEGO Lord of the Rings tetaplah GOTY-nya, sebuah pengingat bahwa nilai sebuah game seringkali melampaui tanggal rilisnya. Siapa tahu, mungkin 13 tahun dari sekarang, di tahun 2038, kita akan mendengar cerita serupa tentang Clair Obscur atau Pokemon Legends: Z-A yang kembali mencuri perhatian. Dunia game memang selalu menyimpan kejutan, baik dari masa depan maupun dari laci kenangan.






