Witcher 3 AI: Visual Memukau, Jiwa Terenggut?

Karlina

Karlina

Witcher 3 AI: Visual Memukau, Jiwa Terenggut?

Morninroutine – The Witcher 3: Wild Hunt, sebuah mahakarya yang tak terbantahkan dalam sejarah gaming, telah menorehkan jejak mendalam di hati para pemain. Namun, seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi grafis, bahkan visual yang pernah memukau pun akan terasa usang dibandingkan dengan judul-judul baru, termasuk penerus potensial seperti The Witcher 4. Tak heran jika komunitas modding, dengan semangat kreatifnya, kerap berupaya "menyegarkan" tampilan game ini. Di antara berbagai mod peningkatan grafis yang beredar, sebuah proyek ambisius yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) baru-baru ini menarik perhatian, namun bukan karena alasan yang sepenuhnya positif.

Matthew Danielson, seorang Penulis Staf Senior Gaming di esportivonews.com, yang dikenal dengan wawasannya yang tajam dalam game RPG dan aksi, menyoroti fenomena ini. Ada banyak mod yang berfokus pada detail, dari mekanik angin dan cuaca yang realistis hingga membuat NPC terlihat lebih alami. Namun, seorang kreator bernama Aillusory mengambil pendekatan yang radikal: membayangkan ulang The Witcher 3 sepenuhnya dengan AI generatif. Dalam video berdurasi beberapa menit yang diunggah Aillusory, kita disuguhkan visi "peningkatan" gaya seni orisinal game, berusaha membuatnya terlihat se-realistis atau se-stylized mungkin, dari Geralt hingga setiap sudut lingkungan yang ia jelajahi.

Witcher 3 AI: Visual Memukau, Jiwa Terenggut?
Gambar Istimewa : static0.srcdn.com

Sekilas, proyek ini memang memamerkan dunia The Witcher 3 yang seolah di-upgrade secara masif, dengan grafis yang terlihat sangat realistis. Namun, di balik kilauan permukaan, muncul kesan "uncanny valley" yang kuat. Keindahan orisinal game, yang lahir dari sentuhan tangan manusia dan kerja keras yang disengaja, seolah lenyap. Alih-alih detail yang terukir dengan cermat, proyek AI ini menciptakan lapisan kilau dangkal yang menutupi keunikan latar aslinya. Meskipun visualnya tampak mengesankan dalam gerakan, dengan banyak adegan yang membangun tampilan dunia The Witcher 3 yang cukup detail, pesona versi "AI Slop" ini runtuh seketika saat video dijeda. Objek-objek mulai menyatu, terlihat terlalu halus atau tidak alami.

Karakter-karakter, meskipun memiliki polesan dan tidak kehilangan jari, menunjukkan fitur-fitur lain yang mungkin membuat penggemar game aslinya bergidik. Ambil contoh Geralt: ekspresinya nyaris tidak berubah. Bibirnya tidak bergerak, matanya hampa tanpa emosi. Hal ini bahkan lebih kentara pada Ciri, yang juga tampak "mati rasa" dengan bekas lukanya yang terlihat mengkilap dan tanpa kedalaman. Ini menyoroti salah satu kelemahan umum AI dalam penciptaan seni: kesulitan menggambarkan nuansa emosi dan karakter manusia yang kompleks. Seringkali, AI cenderung menghasilkan representasi wanita yang mirip supermodel, mengutamakan penampilan fisik semata tanpa sentuhan artistik yang membuat mereka terasa seperti individu nyata.

Bukan hanya karakter utama, aktivitas NPC di latar belakang juga hanya berupa animasi AI yang berulang, kehilangan pesona dan individualitas yang pernah mereka miliki di The Witcher 3. Salah satu fitur yang mendefinisikan game ini adalah bagaimana setiap karakter yang ditemui terasa seperti seseorang dengan kekhawatiran dan tujuannya sendiri. Dalam versi AI ini, mereka tidak lebih dari objek, sama seperti air atau rumput yang terlihat fotorealistik. Ini menghilangkan kedalaman naratif dan interaksi yang membuat dunia The Witcher terasa hidup dan responsif.

Pada akhirnya, pencapaian teknis dari video AI ini terasa sangat minim dibandingkan dengan nilai artistik yang ditunjukkan oleh game aslinya di setiap level. Kebanyakan pemain mungkin akan menemukan lebih banyak kegembiraan dalam kesalahan visual dan bug The Witcher 3: Wild Hunt, semata-mata karena hal tersebut membuktikan bahwa sentuhan manusia, dengan segala ketidaksempurnaannya, adalah bagian dari proses penciptaan sesuatu yang luar biasa untuk dialami. Proyek ini memang menarik sebagai eksperimen teknologi, namun ia gagal menangkap esensi dan jiwa yang membuat The Witcher 3 menjadi legenda. Ini menjadi pengingat penting: sementara AI dapat menjadi alat yang kuat, ia masih jauh dari mampu menggantikan keunikan, emosi, dan kedalaman yang hanya bisa diberikan oleh visi kreatif manusia. Masa depan game mungkin akan melihat AI sebagai co-pilot, tetapi kemudi utama tetap di tangan para seniman.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar